Jumat, 06 April 2012

Makalah Filsafat Pragmatisme

PRAGMATISME
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah filsafat umum



Disusun oleh :
Kelompok 3
Herawati Aisyiah 210911083 Moderator
 Qurrota A’yuni Z. 210911084 Notulen
 Denik Riana 210911082 Pemateri 1
 Lina Nuryana 210911085 Pemateri 2
Program Studi :
Tadris Bahasa Inggris/TI. C
Dosen Pengampu :
Drs. Waris
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
Maret 2012


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT kami ucapkan kehadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw beserta keluarga, Sahabat serta pengikutnya, yang telah mengantarkan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah seperti yang kita alami saat ini.
Kemudian dalam hal ini, penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada bapak Drs. Waris dan semua pihak yang langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari keterbatasan kemampuan yang dimiliki sehingga makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.


Ponorogo, 30 Maret 2012



Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ....................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................... ....... ii
BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1
B. Rumusan Masalah ............................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pragmatisme ....................................................
B. Tokoh-tokoh dalam Pragmatisme .......................................
C. Hubungan Pragmatisme dengan ideologi pancasila ...............
D. Hubungan pragmatisme dengan kebijakan pemerintah ..........
BAB III KESIMPULAN ....................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern adalah masalah epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar. Dalam filsafat terdapat beberapa teori kebenaran salah satunya pragmatisme. Pada awalnya pragmatisme ini dibangun bukan untuk memberikan penjelasan tentang pendidikan, tetapi filsafat ini murni menanggapi masalah pengetahuan.
Dalam keseharian kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah pragmatisme. Namun, banyak diantara kita yang tidak mengetahui pragmatisme dalam filosofinya. Oleh karena itu dalam makalah ini, kami akan menjelaskan tentang pragmatisme.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Pragmatisme
2. Tokoh-tokoh dalam Pragmatisme
3. Hubungan Pragmatise dengan Ideologi Pancasila
4. Hubungan Pragmatisme dengan Kebijakan Pemerintah










BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pragmatisme
Pragmatisme (dari bahasa yunani : pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan, tindakan), sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James di Amerika serikat. Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori semata-mata bergantung pada berguna atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Istilah Pragmaticisme (pragmaticism) ini sendiri diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Peirce (1839/1914) bagi doktrin pragmatisme, yang diumumkannya pada tahun 1978.
Bagi para pragmatis, batu ujian kebenaran ialah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruh yang memuaskan (satisfactory consequences). Menurut pendekatan ini, maka tidaklah terdapat apa yang disebut kebenaran yang tetap atau kebenaran yang mutlak. Selain itu, bagi pragmatisme suatu agama bukan benar karena Tuhan yang disembah oleh para penganut agama itu sungguh-sungguh ada, tetapi karena pengaruhnya yang positif atas kehidupan manusia berkat kepercayaan orang akan Tuhan maka kehidupan masyarakat berlaku secara tertib.
Jadi, yang dimaksud dengan pragmatisme adalah aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori bergantung pada kegunaanya bagi kehidupan.




B. Tokoh-tokoh Pragmatisme
Filsafat pragmatisme merupakan suatu metode memfilosofikan makna teori. Selalu saja ada perbedaan dalam memberi makna pragmatisme. Berikut tokoh-tokoh dalam pragmatisme :
1. Charles Sanders Peirce (1839-1914)
Peirce mengatakan bahwa teori pragmatisme bukan suatu filsafat, bukan metafisika, bukan teori kebenaran, melainkan suatu tehnik untuk membantu kita menemukan cara untuk pemecahan masalah. Dua uraian yang akan diketengahkan yaitu metode pragmatik dan prosedur penetapan makna.
Metode Pragmatik dari peirce dimaksudkan agar ide yang kita ketengahkan menjadi jelas. Metode pragmatik bukan dimaksudkan untuk menetapkan makna semua ide, melainkan untuk konsep intelektual yang memiliki struktur argumentatif atas fakta obyektif. Pragmatisme tidak hendak membuktikan tentang problem real metafisik, melainkan hendak menunjukkan bahwa problem metafisik itu tak bermakna apapun. Peran kedua dari metode pragmatik adalah untuk mengaplikasikan signs (yang berupa ide, konsep, bahasa) dengan menyajikan pernyataan kondisional. Kondisi akan menjadi acuan informasi bagi kita, bila kita hendak mencapai yang kita harapkan. “Bagi yang berlatih cermat dan mempersiapkan dengan baik, terjun payung bukan olahraga penuh resiko. Sedangkan bagi awam, terjun payung merupakan olahraga penuh resiko”.
Prosedur Penetapan Makna merupakan uraian lain dari peirce pada bangunan pragmatisme. Pertama, sesuatu makna itu kosong, bila tidak dapat mengaplikasikan kondisi atau konsekuensi praktisnya. Kedua, untuk dapat memberikan makna, kita harus membangun skema sebagai kerangka teori untuk mendapatkan isi konsep empirik yang signifikan.
Selain itu, Peirce memformulasikan 3 prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar bagi pragmatisme antara lain :
a. Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih daripada kemurnian opini manusia
b. Apa yang kita namakan “Universal” adalah opini-opini yang pada akhirnya setuju dan menerima keyakinan dari para ahli
c. Filsafat dan matematika harus dibuat lebih praktis dengan membuktikan bahwa problem-problem dan kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata bagi masyarakat.

2. William James (1842-1910)
Meskipun Peirce dan James merupakan sahabat lama, keduanya berbeda jalan dalam mengembangkan pragmatisme. Peirce menyebut dirinya realis skolastik, dan James bisa disebut nominalist. Peirce tampil lebih sebagai pragmatisme logik dan ilmiah, sedangkan james lebih tampil sebagai moralist pragmatik.
Dengan filsafat pragmatismenya James menjadi sangat terkenal dan diikuti banyak ahli. Menurut James, makna dan kebenaran termasuk dalam kategori moral yang fundamental. Untuk menetapkan makna dan kebenaran ide orang harus mengevaluasikan konsekuensi praktis, kegunaan, dan workability. Nilai dari ide, keyakinan, dan konseptualisasi kita terkait pada fungsinya membantu kita memperoleh dan mempertahankan sesuatu yang memuaskan, dalam arti efektif dan efisien. Kebenaran bagi James, dan juga diikuti Bergson, merupakan invensi bukan discovery. (invensi= temuan kreatuf, discovery= menemukan yang memang sudah ada). Membuat invensi atau temuan kreatif pada manusia berupa memadukan kebenaran dengan nilai dalam aksi, membuat dunia ilmu dengan pragmatisme dapat berkembang pesat. Ada pengaruh teori evolusi. Menurut James, setiap bagian dari realitas itu mempunyai   fungsi, sesuatu yang tidak berguna tidak akan dapat bertahan sebagai bagian dari realitas.
Prinsip-prinsip dasar William James :
a. Dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tidak dapat diprediksi tetapi dunia benar adanya
b. Kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide, tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide dalam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata
c. Manusia bebas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya akan dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisnya maupun penguasaan ilmu pengetahuannya
d. Nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketentuan yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang dunia dimana kita tinggal didalamnya.
James telah berhasil membuat satu pandangan filosofis terhadap dunia yang pada hakikatnya sejajar dengan opini publik yang berasal dari orang-orang awam dan bahkan memberi ruang baginya dalam alam jagad raya ini sebagai agen yang bebas dan bertanggungjawab, memecahkan problem-problem melalui penggunaan praktisnya.
Semua pengalaman adalah hal yang nyata, James berpendapat bahwa “ Manusia tidak diminta untuk menjelaskan semuanya segera mungkin”. Kecukupan yang digunakan kedalam situasi tertentu adalah kebenaran, dengan pengertian bahwa kita bekerja dalam situasi itu sendiri. Dengan perkataan lain, kita harus bekerja sesuai dengan situasi yang telah ditentukan dan tidak boleh melebihinya.

3. John Dewey (1859-1952)
Dewey merupakan salah satu dari tiga serangakai pembangun pragmatisme. Pragmatisme Peirce bersifat eksperimental logik, sedangkan James empiris humanis, dan akhirnya pragmatisme Dewey meramu Hegelian dan Kantian yang idealis dengan logiknya Peirce dan humanisnya James sekaligus. Akhirnya pragmatisme Dewey menjadi instrumentalisme. Ide, konsep, dan keputusan hanyalah instrumen inkuiri bukan untuk mencari benar salah melainkan membuktikan lewat pengalaman efektif-tidak.
Dalam teori inkuirinya Dewey mengembangkan filsafatnya sebagai berikut. Situasi disekeliling kita itu sebagai pengalaman pertama merupakan situasi indetermine, maka dengan berfikir reflektif, situasi tersebut menjadi determinate, atas refleksi kita. Proses inkuiri untuk sampai pada pencitraan determinate tersebut melalui hipotesis atau plan of action yang selanjutnya di uji secara eksperimental. Sebagaimana dikemukakan dimuka, proses inkuirinya Dewey bukan mencari benar salah, melainkan mencari efektif-tidak. Hasil efektif sebagai end  akan menjadikan means pada inkuiri berikutnya.

C. Hubungan Pragmatisme Dengan Ideologi Pancasila
Penyimpangan implementasi pancasila pada masa orde lama dan orde baru, berujung menimbulkan gerakan reformasi di Indonesia, sehingga terjadilah suatu perubahan yang cukup besar dalam berbagai bidang terutama bidang kenegaraan, hukum maupun politik. Konsekuensinya mengharuskan kita mengkaji ulang atas pemahaman ilmiah tentang pancasila sebagai ideologi dan sebagai paradigma kenegaraan. Pancasila sebagai dasar filsafat atau ideologi negara RI.
Dalam pengertian ideologi negara itu termasuk dalam golongan ilmu pengetahuan sosial, dan tepatnya digolongkan ke dalam ilmu politik. Suatu ideologi di golongkan pada tipe pragmatis, ketika ajaran-ajaran yang terkandung dalam ideologi tersebut tidak dirumuskan secara sistematis dan terperinci, melainkan dirumuskan secara umum (prinsip-prinsipnya saja). Dalam hal ini, ideologi itu tidak diindoktrinasikan, tetapi disosialisasikan secara fungsional melalui kehidupan keluarga, sistem pendidikan, sistem ekonomi, kehidupan agama, dan sistem politik. Individualisme (liberalisme) merupakan salah satu contoh ideologi pragmatis.
Pancasila dijadikan sebagai ideologi karena memiliki nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan diakui dapat membawa manfaat besar bagi bangsa indonesia. Pancasila sebagai dasar negara bermakna bahwa nilai-nilai pancasila berfungsi untuk menata dan mengatur sistem pemrintahan negara, serta merupakan sumber norma hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai pancasila diakui memiliki keunggulan pancasila merupakan paduan unik antara moralitas agama dan naturalisme iptek.  Pancasila menyentuh dimensi lahir dan dimensi batin dari peradaban bangsa indonesia. Keunggulan lain dari pancasila yang sering tidak kita sadari adalah rumusan teks pancasila yang dibuat sederhana, singkat dan padat sehingga mudah dihafal oleh masyarakat. Ini dimaksudkan agar pancasila mudah dikenal dan diingat serta mudah menjangkau masyarakat seluas-luasnya. Bersamaan dengan itu dibalik teks yang singkat tersebut terkandung nilai-nilai fundamental.
Pengertian negara menurut pancasila sebagai dasarnya adalah negara yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaanaan dalam permusyawaratan /perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selain memiliki keunggulan pancasila juga memiliki tantangan yaitu: meningkatkan ketahanan nasional disegala bidang kehidupan, membebaskan bangsa terpapar budaya asing dari barat maupun timur, dengan terus menerus melakukan revitalisasi, reaktualisasi serta implementasi nilai-nilai pacasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, kalau kita pinjam pikiran para guru besar kita, pancasila sebagai dasar negara dengan fungsi regulernya yang harus ditegakkan, juga sekaligus harus dikembangkan sebagai paradigma kritik ideologi atau kerangka berpikir yang berfungsi menertibkan dan meluruskan pikiran-pikiran sesat dari ideologi-ideologi lain.
Contoh terpopuler adalah anggapan sementara kalangan bahwa pancasila adalah suatu varian yang setara dengan agama. Pikiran yang sering dinisbatkan datang dari kalangan fundamentalisme agama ini menganggap pancasila adalah ancaman bagi agama dan harus ditolak.
Berdasarkan tantangan-tantangan yang ada, maka sejak bergulirnya reformasi MPR memandang pentingnya pemasyarakatan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada periode kepemimpinan MPR 2009-2014, pemasyarakatan pancasila dilaksanakan dan dikembangkan dalam berbagai inovasi baru diantaranya menyangkut materi dan metodologinya. Pemasyarakatan nilai-nilai pancasila dikemas beserta norma-norma derivatifnya yang utama, yang kemudian dikenal luas dengan sebutan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Empat pilar tersebut adalah:
1. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara
2. UUD negara RI tahun 1945 sebagi sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
3. NKRI sebagai konsensus bentuk negara yang harus dijunjung tinggi
4. Bhineka Tunggal Ika sebagai kaidah hidup bersama dalam kemajemukan yang harus diamalkan.

D. Hubungan Pragmatisme Dengan Kebijakan Pemerintah
Sejarah bangsa kita juga tidak terlepas dari pragmatisme. Rezim orde baru misalnya tidak peduli dengan nilai, segalanya semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan. Dan bagi pejabat-pejabatnya yang penting bagaimana mereka bisa menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Begitu juga dengan para teknokrat ekonomi, lebih terfokus bagaimana mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, nyaris tanpa benar-benar memikirkan bagaimana kekayaan itu dibagi-bagi. Akibatnya, jumlah penduduk miskin semakin bertambah, namun yang kaya semakin kaya.
Karena landasan pragmatisme itulah, mereka para pejabat orde baru, mungkin telah merasa berhasil menggunakan ilmu ekonominya, karena mampu menaikkan angka pertumbuhan ekonomi tapi menutup mata dengan kemiskinan yang semakin melebar. Contohnya, keputusan presiden menaikkan harga BBM, tanpa mempersiapkan apa-apa untuk meredam gejolak dari dampak kenaikkan harga BBM. Keputusan itu dibuat tanpa membuktikan terlebih dahulu kepada rakyatnya, bahwa RAPBN telah disusun dengan sangat efisien, bahkan tunjangan anggota DPR justru dinaikkan.  


BAB III
KESIMPULAN

1. Pengertian Pragmatisme adalah salah satu teori kebenaran dalam pragmatisme yang menganggap sesuatu itu benar karena memiliki nilai kegunaan dalam kehidupan manusia.
2. Tokoh- tokoh dalam Pragmatisme adalah:
a. Charles Sanders Peirce (1839-1914)
b. William James (1842-1910)
c. John Dewey (1859-1952)
3. Hubungan Pragmatisme dengan ideologi pancasila adalah pancasila memiliki nilai kegunaan pada setiap sila-silanya bagi kehidupan warga negara Indonesia.
4. Hubungan Pragmatisme dengan kebijakan pemerintah yaitu pemerintah menggunakan teori Pragmatisme dalam mengambil kebijakan yang merugikan rakyat.















DAFTAR PUSTAKA

http://amuhyiddin.blogspot.com/2005/11/pragmatisme.htnl/11.30/30maret2012
http://jendelapemikiran.wordpress.com/2008/02/25/merentang-nalar-pragmatisme/
http://www.lukmansaifudin.com/pancasila-dan-implementasinya-di-era-demokrasi
Muhadjir, Noeng. Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional Komparatif.                Yogyakarta: Rake Sarasin. 1998
Saifudin, Endang Anshari. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu.    1987
Soemargono, Soejono. Pengantar Filsafat. Terjemahan dari Elements of    Philosophy. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 1992
Suhartono, Suparlan. Filsafat Umum Pengetahuan. Yogyakarta: Ar-Ruzz. 2005
Waris. Filsafat Umum. Ponorogo: STAIN Po Press. 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar